banyak sekali teori pendidikan, sarana mendidik, cara mengajar. Kita akan temukan teori teori tersebut dari dulu banyak banget entah dr timur atau barat. Akan tetapi ternyata teori2 tersebut, terbukti bahwa yang paling pokok atau yg paling manjur adalah keteladanan. Tapi penelitian membuktikan, pengalaman membuktikan bahwa sarana terbaik untuk transfer pengetahuan dan mewujudkan ilmu dalam praktek nyata kehidupan adalah keteladanan. Sehingga ketika seorang pendidik ingin menanamkan kecintaan terhadap Al Qur’an kepada, seorang pendidik harus menjadi teladan nyata untuk anak anak yang didiknya”
Dari sini kita bisa memahami mengapa guru guru zaman dahulu ketika sesuatu masih super sederhana bahkan banyak diantara mereka yg berangkat ke sekolah dengan jalan kaki
1.harus ada nasihat yang sifatnya verbal. Diucapkan. Jangan pikir keteladanan cukup hanya dari perilaku saja. Salah. Perlu dilisankan juga.
“Ketika seorang pendidik ingin mengawali mengajarkan Al Qur’an kepada anak anak yang didiknya, hendaknya dia mengucapkan Al Qur’an adalah kitabnya Allah. Didalamnya tertulis firman firman Allah. Allah yang menciptakan kita, menciptakan alam semesta, m3mberi kita apa yang kita butuhkan, yang memberi kira rejeki, yang memilik kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.” Prolog ini diperlukan supaya anak mengetahui kitab yang akan dia pelajari, kitab yang sedang ia pegang itu tidak sama dengan kitab yang lainnya. Harapannya nanti kedepannya ga sembarangan dalam memegangnya, membacanya, dll.
Kenapa perlu dihafal? “Barang siapa yangM menghafal Alquran maka Allah akan menjaga dia” sehingga anak benar benar merasa menghafal Al Qur’an itu untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk kepentingan orang tuanya. Tanamkan kepada anak, “nak jadilah penjaga Al Qur’an”. Kitab orang lain banyak yg perubahan, kitab suci loh. Kalau Al Qur’an satu huruf aja akan ketahuan.
Ketika menghafal hendaknya bukan , harus memperhatikan isi dari ayat yg mereka hafal. Sehingga anak merasa sesuatu yg mereka hafal adalah sesuatu yg memiliki makna. Misal Allah as shamad : jelasin ash shamad apa. Misal Al Fatihah : jelasin iyyakanabudu wa Iyya kanastain. Kalau kamu lagi sakit, maka minta segala sesuatu kepada Allah. Ya Allah sembuhkan aku. Yg sederhana aja kalau blm pandai ngomong. Mungkin dia belum bisa respon, tapi contohin terus aja. Nanti kita akan terkaget kaget suatu hari dia yang akan ingetin kita.
Abi sabar…
Umi doa sama Allah…
Ini karena hidayah dari Allah dan harus kita tanamkan juga.
“Barangsiapa berpegang dengan nilai nilai Al Qur’an maka dia akan dibantu oleh Allah menghadapi masalah masalah hidup. Dan kitab ini akan menjadikan seseorang berakhlak mulia, menjadi orang yang baik”
Poin terakhir ini bisa menjadi senjata makan tuan. Begitu dia denger itu, dia akan lihat orang yang dihadapannya yaitu ayah dan ibunya. Itulah pentingnya guru teladan, pendidik teladan.
“Pengaruh dari nasihat verbal tadi tergantung dari perilaku sang pendidik itu sendiri. Oleh karena itu, 2. Mensinkronkan antara perilaku dengan ucapan”
“Seandainya sang pendidik perilaku kpd anak didiknya mencerminkan apa yg ia perintahkan kepada mereka berupa akhlak mulia, dan pendidik itu memiliki keistimewaan 2 yg tidak didapatkan anak dari orang lain” anak itu akan membandingkan perilaku ortu, guru, dan org lain yg ia liat di luar rumah karena di jaman ini susah untuk mengekang anak. Dia akan bandingkan karakter nya, perilakunya, bagusan mana? Ini jadi motivasi kita untuk jadi orang yang perilakunya paling baik. Jangan sampai kita jadi guru perilaku, karakter, akhlak kita kalah dengan orang orang yang tidak mengajarkan Al Qur’an. Buktikan bahwa Al Qur’an membawa perubahan untuk kita sebelum orang lain.
Keseharian kita akan berpengaruh kepada kecintaan anak kita kepada Al Qur’an. Oh bener ya ortu saya tidak seperti Fulan yg suka mukul, bentak anaknya.. ortu saya tidak seperti itu karena ortu saya dekat dgn Al Qur’an.
“Sebaliknya, apabila perilaku sang pendidik bertolak belakang dengan nasihat yang ia sampaikan kepada anak didiknya. Setiap hari pendidik mengatakan kepada anak didiknya, ayo hafalkan Al Qur’an Al Qur’an akan membuat akhlak kita mulia. Disaat yang sama akhlak dia tidak mulia, maka anak itu akan membenci apa yang diperintahkan oleh si pendidik. Dan akhirnya yang tidak dia suka adalah belajar Al Qur’an. “
“Oleh karena itu, seorang pendidik atau orang tua harus bersemangat menjadi teladan yang baik bukan sekadar ucapan tapi juga dengan perilakunya agar anak cinta kepada sang pendidik. Ketika anak sudah cinta kepada pendidiknya, maka anak akan mencintai apa yang akan dicintai oleh pendidiknya”
Membangun Rumah Cahaya
Bagaimana membangun hubungan yang baik antara Al Qur’an dan anak-anak kita?
Ada seninya bagaimana membuat anak jatuh cinta pada Al Qur’an. Menghafal bukan karena terpaksa. Menghafal bukan karena takut dihukum. Bagaimana caranya?
Untuk menjadi guru atau pendidik Al Qur’an itu memerlukan ilmu, keterampilan, keahlian, pengalaman, sehingga tidak asal tamat dari sebuah lembaga pendidikan langsung dipasang tanpa ada pembekalan sebelumnya. Karena ketika Al Qur’an diajarkan tanpa metode yang benar, akan terjadi kerugian-kerugian yang mungkin membahayakan mental anak.
Apa saja poin poin yang harus diperhatikan agar terbangun hubungan yang baik antara anak dengan Al Qur’an?
“Faktor pertama adalah rumah teladan”
Sebelum memilih sekolah yang ideal kurikulum yang digunakan, atau bahkan guru, poin pertama yang harus diperhatikan adalah RUMAH. RUMAH TELADAN.
Rumah adalah lingkungan pertama yang akan dilihat oleh anak. Pertama kali anak akan melihat rumahnya, bukan melihat gurunya atau sekolahnya. Sehingga yang harus diperhatikan adalah bagaimana rumah dibuat menjadi rumah yang ideal bagi anak-anak berinteraksi dengan Al Qur’an entah itu menghafal atau memurojaah Al Qur’an.
Rumah itu bukan dilihat dari bentuk bangunannya, tapi siapa yang tinggal di rumah tersebut. Apa manfaat rumah besar, mewah, fasilitas lengkap, tapi manusia di dalamnya tidak bisa dijadikan teladan? Justru bertolak belakang dengan visi menjadikan anak suka kepada Al Qur’an.
“Seyogyanya Al Qur’an dengan suara yang indah dengan volume yg tidak terlalu tinggi/rendah agar membuat anak nyaman dengan suara Al Qur’an. rumah yang ideal itu adalah kalau di dalamnya ada sesuatu yg bertolak belakang dengan nilai Al Qur’an, maka perilaku tersebut diperbaiki tanpa cara yang ekstrim tapi dengan cara yang bijak” rumah ideal adalah rumah yang menggabungkan antara keindahan lahiriah dan keindahan batiniah.
Lahiriahbkakau baca Al Qur’an enak didengar. Batiniyahnya kalau ada yg ga sesuai segera perbaiki dengan cara terbaik. Karena kita dapatkan ada ketimpangan antara kedua poin tersebut.
“Antara teori dengan praktek harus sinkron” “antara teori dan praktek gak sama. Jangan sampe”
Empat tipe rumah terkait dengan membangun hubungan anak dengan Al Qur’an. Dari empat tipe ini hanya satu yang ideal.
Jangan merasa segan untuk introspeksi diri, kira kira rumah kita tipe yang keberapa ya?
1. Rumah yang bercita cita mulia tapi tidak maksimal berupaya
Bagus cita citanya tapi jelek dalam upayanya. maasyaaAllah kalau dari sisi cita cita dahsyat. Sekadar memasukkan anak ke tpq itu belum cukup, harus diiringi dengan kedekatan orang orang dalam rumah dengan Al Qur’an. Bagaimana mungkin pengen cita cita anak tamat Al Quran sebelum SD tapi dalam rumah itu ga pernah baca Al Quran?? Eval :
– berapa banyak baca Al Quran?
– berapa sering buka gadget dalam sehari?
Buka gadget kalau digabung jadi berapa jam sehari?
Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya sudah bisa memberikan jawaban. Gimana mau bikin cinta Al Qur’an sedang orang di dalam rumah itu main gadget terus??? Bahkan virus ini bukan hanya menjangkiti orang awam tapi yg udah ngaji jugaa.
2. Rumah yang bercita cita mulia tapi ekstrem dalam mewujudkannya
Mengajarkan Al Qur’an kurang hikmah, tanpa memperhatikan usia, karakter, kecenderungan anak
3. Rumah tanpa cita cita mulia
4. Rumah bercita cita mulia dan bersikap ideal dalam mewujudkannya
Orang tuanya rajin baca Al Quran, nilai nilai Al Qur’an diwujudkan dan betul betul hidup dalam rumah tersebut.
Al Qur’an mengajarkan kita untuk bicara dengan bahasa yang terbaik, bukan hanya yg baik Saja. Kalau kita ngomong dengan sangat baik, menyenangkan, anak jadi akan menyimpulkan oh orang tua aku baik bgt gini karena sering baca Al Quran. Dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya karena dekat dengan Al Qur’an jadi menyenangkan buat anaknya. Ngomong halus, marah terkontrol.
—–
Disarikan dari kajian kitab Kaifa Nuhibbul Qur’ana Lii Abnaaina seri ke-2 yang dapat disimak secara lengkap pada tautan berikut ini :
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bekal menghadap Allah
Gangguan Perkembangan Anak
Bismillah. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Teman-teman sekalian, kali ini saya mau membagikan catatan dari serial kelas pengasuhan yang diadakan oleh Yayasan AMCA (Anak Muslim Ceria). Serial kelas pengasuhan yang dibawakan oleh Kak Yogi Kusprayogi ini membahas Psikopatologi Perkembangan anak yang bersumber dari buku karangan Charles Wenar dan Patricia Kerig.
Saya senang sekali dengan ada kelasnya ini yang membuat saya bisa belajar menjadi psikolog pribadi buat anak-anak di rumah. Sebagai orang tua baru, kami harus benar-benar banyak belajar. da tahap yang sempat terlewatkan, kita jadi bisa mengobservasi dan mengevaluasi perkembangan anak sendiri setelah taufiq dari Allah.
Saya merasa tidak ada seorang anak pun yang luput dari gangguan perkembangan psikologis. Layaknya seorang manusia, mereka yang baru hidup di dunia akan sering melakukan kesalahan. Semua kesalahan yang mereka buat adalah hal yang wajar apabila masih dalam rentang usia yang semestinya. Kesalahan apa saja? Berapa lama rentang wajarnya? Jawabannya akan kita temukan dalam rangkaian kelas ini.
Masalah perkembangan akan semakin serius apabila ada pembiaran atau pemakluman dari keluarga. Oleh karena itu, kita selaku orang tua selayaknya mengetahui mana perilaku anak yang bisa dibiarkan mana yang harus dihentikan. Fase anak-anak adalah fase yang rentan sehingga jika kita membersamai anak tanpa ilmu, maka mungkin sekali masalah atau gangguan yang ada menetap hingga mereka dewasa.
Kenakalan remaja atau conduct disorder adalah salah satu contoh perilaku yang merupakan hasil dari gangguan perkembangan psikologis yang menetap sejak kecil. Awalnya, mungkin hanya ODD. Apabila pembiaran terus menerus terjadi, maka akan muncul perilaku conduct disorder. Perilaku menyimpang ini ditandai dengan sikap yang suka menentang figur-figur yg memiliki otoritas seperti orang tua atau guru, agresif, dan tidak segan menyakiti atau melukai. Ciri lain yang patut diwaspadai adalah kebiasaan suka membakar mahkluk hidup. Berdasarkan penelitian, beberapa orang yg dilabeli psikopat memiliki riwayat membakar mahkluk hidup. Hal ini menunjukkan mereka memiliki rasa empati yang rendah.
Sebagai orang tua, seharusnya kita tidak melakukan pembiaran kepada kesalahan anak atau ketika tumbuh kembangnya tidak normal. Akibat kita yang salah mengasuh atau salah mengurus, masalah yang akan terjadi nantinya lebih serius. Berikut ini adalah beberapa ciri orang tua yang biasanya menyangkal apabila ada kesalahan perkembangan pada anaknya. Yuk, kita muhasabah!
1. Membandingkan dengan masalah yang besar
“Ah mending anakku berat badannya cuma segini, liat gak tuh tetangga sebelah serem banget BB nya sampe 40kg padahal masih 5 tahun!” Disisi lain, berat anaknya 36 kg di usia yang sama.
Kenapa harus membandingkan padahal anak kita sendiri masalah? Anak-anak bukan komoditas yang bisa dibanding-bandingkan dengan pihak lain.
2. Masalah akan berlalu sesuai dengan berjalannya waktu
“Tenang aja, bismillah saya yakin seiring berjalannya waktu dia akan lancar berbicara sendiri” padahal usia anaknya sudah 4 tahun tapi belum lancar berbicara dan kontak mata dengan lawan bicara juga termasuk kurang.
Kalau anak tumbuh besar sendiri tanpa ditreatment yaudah ga usah punya orang tua aja sekalian
3. Masalah jalan pintas
Misal mencubit, memukul, membentak anak apabila mereka salah atau tidak seperti yang kita inginkan. Seolah olah masalah selesai tetapi malah menambah masalah yg baru.
4. Merasa kondisi anak sebagai sesuatu yg alamiah terjadi
Lalu, bagaimana cara memahami apakah anak mengalami gangguan atau tidak?
Kalau melihat ada yg ga nyaman atau ga bagus, harus diukur berapa sering anak melakukan. Misal marah marah, dalam sehari berapa kali? Misal tiga kali. Terus sudah berapa lama? Sudah berjalan 3 bulan terakhir. Hati-hati. Semakin lama gangguan terjadi, semakin lama penyembuhan dibutuhkan.
Apakah masalah ini berefek ke dirinya? Misal tugas ga bs selesai. Bagi Orang tua? Ortu ga bs istirahat, repot, kebawa emosi, marah2. Bagi lingkungan? Mengganggu guru, teman ngeluh, dll.
Ortu sejatinya adalah penolong bagi anak-anaknya. Jadi harus dikomunikasikan dengan keluarga besar, minta bantuan pada kakek nenek atau pengasuh yg lain. Terkadang perasaan tidak enak itu didahulukan yg ada anak anak yg jadi korban. Kalau ortu sudah punya aturan terus kakek nenek longgar nanti anak anak jadi ga respek ke ortu dan memilih berasama kakek nenek.
Ortu yg mau belajar dan update ilmu yg kalau ada masalah lgsg minta tolong Allah kemudian minta bantuan profesional
Teknik membersamai anak anak kita :
1. Mengatur ulang jadwal mereka
2. Menghargai perilaku yang kita inginkan
Reward bisa berupa pujian
3. Menangkan anak dengan sikap suportif
Ortu perhatian, ga segan minta maaf dan terima kasih, anak jadi trust.
4. Tidak merespon perilaku buruk. Perilaku buruk tidak perlu mendapat respon berlebihan.
Kalau ortu tidak pernah mengambil sikap disiplin, anak akan mengabaikan orang tua nya. Kamu boleh nangis, nendang, lempar, tapi ga boleh mukul, ga boleh nendang, dll. Jangan ada anak lagi lari lari terus mereka dikasih kue, nanti mereka mikir yaudah nanti kalau mau kue lari lari lagi aja. Ini namanya menyuap atau menyogok anak anak. Hadiah itu atas perilaku baik, bukan kompensasi atas perilaku buruk. Kalau kamu ga bohong nanti mami kasih hadiah. Salah.
Kalau kita marah atas perilaku anak mereka merasa berhasil mendapat atensi kita. Kalau kita kesal tunjukkan muka flat aja
Treatment bagi anak
Beda beda untuk tiap individu.
Psikolog kalau mau kasih treatment ada namanya rapor, membangun kedekatan dulu dengan anak. Membangun kedekatan ini bisa jadi jauh lebih lama dibandingkan dengan terapinya. Terapis yang paling ideal bagi anak anak adalah orang tua sendiri. Karena ikatannya paling dekat dengan orang tuanya. Kalau ortu belajar kan enak, ortu jadi psikolognya anak anak. Belajar ini akan meminimalisir masalah perkembangan anak. Kalau bertumpu pada profesional, mereka jumlahnya sedikit sedangkan anak-anak itu banyak.
Pembahasan dalam buku ini dibagi ke dalam enam bab sebagai berikut :
Bab 1 Immature Behavior
(Yg harus distop di usia 6 tahun)
Hiperaktivitas (ADHD)
Impulsif
Gangguan pemusatan perhatian
Day dreaming
Over dependent
Selfish
Bab 2 insecure behavior
Kecemasan
takut
Depresi
Hipersensitif
Kompulsif perkesionis
Bab 3 habit disorder
Bab 4 peer problem
Bab 5 antisosial behaviour
Bab 6 gangguan lain
Gangguan seksual
Belajar disekolah