Bagaimana membangun hubungan yang baik antara Al Qur’an dan anak-anak kita?
Ada seninya bagaimana membuat anak jatuh cinta pada Al Qur’an. Menghafal bukan karena terpaksa. Menghafal bukan karena takut dihukum. Bagaimana caranya?
Untuk menjadi guru atau pendidik Al Qur’an itu memerlukan ilmu, keterampilan, keahlian, pengalaman, sehingga tidak asal tamat dari sebuah lembaga pendidikan langsung dipasang tanpa ada pembekalan sebelumnya. Karena ketika Al Qur’an diajarkan tanpa metode yang benar, akan terjadi kerugian-kerugian yang mungkin membahayakan mental anak.
Apa saja poin poin yang harus diperhatikan agar terbangun hubungan yang baik antara anak dengan Al Qur’an?
“Faktor pertama adalah rumah teladan”
Sebelum memilih sekolah yang ideal kurikulum yang digunakan, atau bahkan guru, poin pertama yang harus diperhatikan adalah RUMAH. RUMAH TELADAN.
Rumah adalah lingkungan pertama yang akan dilihat oleh anak. Pertama kali anak akan melihat rumahnya, bukan melihat gurunya atau sekolahnya. Sehingga yang harus diperhatikan adalah bagaimana rumah dibuat menjadi rumah yang ideal bagi anak-anak berinteraksi dengan Al Qur’an entah itu menghafal atau memurojaah Al Qur’an.
Rumah itu bukan dilihat dari bentuk bangunannya, tapi siapa yang tinggal di rumah tersebut. Apa manfaat rumah besar, mewah, fasilitas lengkap, tapi manusia di dalamnya tidak bisa dijadikan teladan? Justru bertolak belakang dengan visi menjadikan anak suka kepada Al Qur’an.
“Seyogyanya Al Qur’an dengan suara yang indah dengan volume yg tidak terlalu tinggi/rendah agar membuat anak nyaman dengan suara Al Qur’an. rumah yang ideal itu adalah kalau di dalamnya ada sesuatu yg bertolak belakang dengan nilai Al Qur’an, maka perilaku tersebut diperbaiki tanpa cara yang ekstrim tapi dengan cara yang bijak” rumah ideal adalah rumah yang menggabungkan antara keindahan lahiriah dan keindahan batiniah.
Lahiriahbkakau baca Al Qur’an enak didengar. Batiniyahnya kalau ada yg ga sesuai segera perbaiki dengan cara terbaik. Karena kita dapatkan ada ketimpangan antara kedua poin tersebut.
“Antara teori dengan praktek harus sinkron” “antara teori dan praktek gak sama. Jangan sampe”
Empat tipe rumah terkait dengan membangun hubungan anak dengan Al Qur’an. Dari empat tipe ini hanya satu yang ideal.
Jangan merasa segan untuk introspeksi diri, kira kira rumah kita tipe yang keberapa ya?
1. Rumah yang bercita cita mulia tapi tidak maksimal berupaya
Bagus cita citanya tapi jelek dalam upayanya. maasyaaAllah kalau dari sisi cita cita dahsyat. Sekadar memasukkan anak ke tpq itu belum cukup, harus diiringi dengan kedekatan orang orang dalam rumah dengan Al Qur’an. Bagaimana mungkin pengen cita cita anak tamat Al Quran sebelum SD tapi dalam rumah itu ga pernah baca Al Quran?? Eval :
– berapa banyak baca Al Quran?
– berapa sering buka gadget dalam sehari?
Buka gadget kalau digabung jadi berapa jam sehari?
Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya sudah bisa memberikan jawaban. Gimana mau bikin cinta Al Qur’an sedang orang di dalam rumah itu main gadget terus??? Bahkan virus ini bukan hanya menjangkiti orang awam tapi yg udah ngaji jugaa.
2. Rumah yang bercita cita mulia tapi ekstrem dalam mewujudkannya
Mengajarkan Al Qur’an kurang hikmah, tanpa memperhatikan usia, karakter, kecenderungan anak
3. Rumah tanpa cita cita mulia
4. Rumah bercita cita mulia dan bersikap ideal dalam mewujudkannya
Orang tuanya rajin baca Al Quran, nilai nilai Al Qur’an diwujudkan dan betul betul hidup dalam rumah tersebut.
Al Qur’an mengajarkan kita untuk bicara dengan bahasa yang terbaik, bukan hanya yg baik Saja. Kalau kita ngomong dengan sangat baik, menyenangkan, anak jadi akan menyimpulkan oh orang tua aku baik bgt gini karena sering baca Al Quran. Dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya karena dekat dengan Al Qur’an jadi menyenangkan buat anaknya. Ngomong halus, marah terkontrol.
—–
Disarikan dari kajian kitab Kaifa Nuhibbul Qur’ana Lii Abnaaina seri ke-2 yang dapat disimak secara lengkap pada tautan berikut ini :
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai bekal menghadap Allah
Membangun Rumah Cahaya